Penyebab korban bunuh diri
Banyak faktor yang mendorong anak di bawah umur maupun remaja nekat mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri. Hal ini diungkapkan oleh Tim Psikologi KP2A Kota Blitar, Chatarina Nini Handayani, Rabu (30/5/2018).
Menurut Nini, kondisi lingkungan keluarga yang kurang kondusif juga dapat mempengaruhi anak nekat berbuat bunuh diri. Seperti kasus remaja usia 16 tahun, EPA, yang nekat gantung diri di kamar kos, Selasa (29/5/2018).
Informasi yang beredar EPA nekat bunuh diri karena khawatir tidak bisa masuk SMA favorit yang diidamkan terbentur masalah zonasi. Seakan-akan masyarakat langsung menyalahkan sistem pendidikan yang tidak benar. Sehingga membuat anak nekat bunuh diri karena tidak bisa masuk di sekolah yang diidamkan.
Padahal, soal sekolah favorit itu belum tentu menjadi faktor utama yang mendorong korban bunuh diri. Kalau pun ada, mungkin hanya sebagian kecil. Tapi, ada faktor lain yang mendorong korban nekat bunuh diri. Misalnya, faktor lingkungan dan faktor keluarga. Kita harus melihat kondisi keluarga korban.
Tinggalkan surat
Jika melihat surat wasiat yang ditulis korban, korban sepertinya sudah siap untuk bunuh diri. Korban seperti merasa tertekan sejak lama.
Entah dari mana tekanan itu berasal, bisa dari lingkungan maupun dari keluarga. Dalam surat wasiat korban juga tidak menyinggung soal perasaan kecewa karena khawatir tidak bisa masuk di sekolah favorit.
Melihat rekam jejak di dunia pendidikan, korban memang tergolong anak yang perfeksionis. Dia berusaha menjadi yang terbaik di lingkungannya. Korban juga terkenal pandai dan supel bergaul.
Tetapi, sebenarnya, semua itu hanya untuk menutupi rasa kekurangan pada dirinya. Bisa saja selama ini korban merasa kesepian. Korban seperti sudah lama memendam masalah pada dirinya. Dalam hal ini, seharusnya peran keluarga menjadi penting. Keluarga menjadi rumah dalam arti sesungguhnya bagi korban untuk mencurahkan masalahnya.
Rumah bukan dalam bentuk fisik, tapi kehadiran orang tua yang memberi perhatian pada korban. Kerap terjadi, anak nekat bunuh diri karena komunikasi dengan orang tua tidak jalan. Anak takut atau bingung mengeluh kepada orang tua ketika ada masalah.
Akhirnya, kata Nini, anak membuat jalan pintas sendiri salah satunya dengan cara bunuh diri. Maka itu, peran keluarga penting untuk pertumbuhan anak atau remaja yang pada masa-masa pencarian jati diri.
Inilah kronologi EPA (16) bunuh diri:
EPA, remaja 16 tahun ditemukan tewas gantung diri di kamar kos, Jl A Yani, Kota Blitar, Selasa (29/5/2018) sore.
Jasad EPA, pertama kali ditemukan Mariani, pengasuhnya. Mariani ikut tinggal di tempat kos itu.
Sebelum ditemukan bunuh diri, EPA meminta Mariani membelikan nasi bungkus. Setelah kembali beli nasi bungkus, Mariani menemukan tubuh EPA menggantung di kusen pintu kamar kos.
EPA meninggalkan empat surat yang ditulis tangan sebelum ditemukan bunuh diri. Surat itu berisi permintaan maaf EPA ke keluarga dan pengasuhnya.
Motif bunuh diri EPA masih misterius. Teman-teman sekolahnya bilang EPA bunuh diri karena khawatir tidak bisa masuk salah satu sekolah favorit di Kota Blitar. Polisi menyebutkan motif bunuh diri EPA karena ada masalah keluarga.
Loading...

