Kisah ibu Gede Ari
Ibu mana yang mampu menahan kepedihannya ditinggal anak.
Seperti halnya dengan Luh Rediani (36), tak sanggup menahan air matanya, Jumat (8/6/2018).
Rasa duka mendalam kehilangan anak pertamanya, Gede Ari Artawan (18) tampak terlihat jelas.
Ditemui di rumah duka, di Dusun Tegalinggah Bawah, Desa Tegalinggah, Kecamatan Sukasada, Buleleng, ia menuturkan, putranya itu memang pendiam dan sangat tertutup kepada keluarga.
Gede Ari ditemukan tewas di dalam mobil Ayla yang terparkir di depan Pura Segara, Pantai Penimbangan, Desa Baktiseraga, Kecamatan Buleleng, Kamis (7/6/2018).
Saat polisi melakukan olah TKP, ditemukan bungkusan plastik berisi serbuk putih dan batu di dalam mobil tersebut.
Selain itu, kunci kontak mobil juga tidak ditemukan.
Rediani mengaku tak mengetahui secara pasti apakah anaknya memiliki permasalahan dengan seseorang atau tidak.
Namun ibu tiga anak ini mengaku, alamrahum Gede Ari memang sering mabuk-mabukan.
"Sejak satu tahun ini dia (Gede Ari) divonis sakit paru-paru. Merokok juga kuat sekali. Sering muntah darah. Kalau sudah mabuk pasti muntah darah," ungkap Luh Rediani.
Semasa hidup, Gede Ari bekerja di Denpasar sebagai karyawan di salah satu toko grosiran.
Selama kerja di Denpasar, Gede Ari tinggal di sebuah mes yang telah disediakan oleh pemilik toko grosiran tersebut.
Diakui Luh Rediani, putranya itu sempat pulang ke kampung halaman saat Galungan.
Namun hanya sebentar, keesokan harinya, ia kembali ke Denpasar.
"Sering dia pulang. Sepekan itu pasti ada saja pulang. Kalau pulang pasti bawa mobil Ayla itu. Katanya mobil itu disewa di Denpasar. Kalau pulang juga selalu sendiri, tidak pernah ngajak teman," ucap Luh Rediani lirih.
Tato di punggung Gede Ari buat orang tua yakin jenazah anaknya
Ia mengetahui kabar anaknya tewas di Pantai Penimbangan dari anggota kepolisian, yang mendatangi kediamannya, Kamis (7/6) pukul 15.00 Wita.
Saat petugas datang, Rediani langsung diberikan ciri-ciri mayat yang ditemukan di Pantai Penimbangan tersebut.
"Saat dikasih tau ciri-ciri ada tato di punggung kananya saya sudah yakin kalau mayat itu adalah Ari anak saya," jelas Luh Rediani.
Senin (4/6/2018), ia mengaku mencoba untuk menelepon anaknya. Namun nomor telepon yang dituju tidak aktif.
"Sebelum kejadian tidak ada mimpi, tumben. Biasanya ada saja firasat kalau anak saya kecelakaan pasti mimpi jelek. Ini tumben sampai dia meninggal tidak ada mimpi atau firasat apa-apa," ujarnya sembari mengusap air matanya.
Rediani telah menyerahkan kasus ini sepenuhnya kepada pihak kepolisian.
Ia berharap agar petugas dapat mengungkap kebenaran terkait tewasnya sang putra yang sangat ia cintai itu.
"Kalau benar dia dibunuh, mudah-mudahan pelakunya segera ditangkap. Kalau anak saya punya kesalahan, saya mohon agar dimaafkan, biar Ari punya tempat disana," harapnya, sembari mengatakan jika pihaknya belum menentukan hari baik kapan sekiranya almarhum Gede Ari akan diupacarai.
BACA JUGA :
HEBOH : Sosok Serda Darma Aji, anggota TNI yang tewas ditusuk karena tolak tawaran minum miras.
Tunggu hasil autopsi
Sementara Wakapolres Buleleng, Kompol Ronny Riantoko mengatakan, sampai saat ini pihaknya masih menunggu hasil autopsi yang dilakukan di RSUP Sanglah untuk mengetahui penyebab tewasnya almarhum Gede Ari.
“Pastinya kami harus menunggu hasil autopsi dari RS Sanglah Denpasar. Tujuannya untuk mengetahui secara pasti apa penyebab kematiannya. Kami tidak ingin berasumsi dan menduga-duga apalagi berandai-andai” tegasnya.
Apakah benar ada bungkusan plastik berisi serbuk putih ditemukan di dalam mobil Ayla tersebut?
"Ya betul saat olah TKP kami temukan serbuk putih. Ini masih kami periksa di Labfor untuk mengetahui kandungan serbuk putih tersebut. Dua buah batu yang ditemukan juga masih kami dalami,” paparnya.
sumber : https://planet.merdeka.com/hotnews/gede-ari-diketahui-sering-mabuk-mabukan-sebelum-ditemukan-tewas-dalam-mobil.html
Loading...
