Jamuda, korban selamat yang terpisah dari teman-teman dan keluarganya
Kisah mengharukan dari para korban selamat dalam tragedi tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba, Sumatera Utara, masih terus mengalir.
Banyak di antara mereka yang masih menanti kabar dari keluarga mereka yang sempat terpisah hilang dalam danau toba
Salah satunya, Jamuda Parmonangan Sinaga, satu dari 18 penumpang yang selamat daam tragedi yang terjadi pada Senin, 18 Juni 2018.
Dalam wawancara yang dilakukan oleh BBC Indonesia, Jamuda menceritakan detik-detik menengangkan ketika kapal karam.
Kapal penuh sesak
Jamuda mulai menceritakan kondisi kapal yang sudah penuh sesak.
Bahkan menurutnya, untuk berdiri saja susah.
"Sudah penuh sekali. Bergerak masih bisa tapi berdiri tak bisa. Posisi duduk semua," katanya dalam wawancara di BBC Indonesia.
Saat itu, kondisi cuaca buruk dan angin berhembus kencang.
Perlahan kapal pun mulai miring dan mulai terbalik perlahan.
"Saat kapal masih oleng saya sudah loncat. dan sempat naik ke atas kapal yang terbalik," ujarnya.
BACA JUGA
HEBOH : Masih balita, Vanita diberi fasilitas mewah dalam kamarnya! Intip yuk, ada kulkasnya juga.
Melihat banyak darah dalam air
Jamuda melihat ada kapal ferry lainnya yang diketahui KM Sumut yang mendekati lokasi tenggelamnya kapal.
Jamuda yang naik kapal bersama kakak, adik dan temannya itu berlomba untuk mendekati KM Sumut.
"Saat ferry datang saya berlomba-lomba dengan kawan saya. Kami tiga orang, dan 2 orang (kakak dan adik) sudah di depan, saya jauh di belakang," ungkapnya.
Saat berenang, rupanya ia yang lebih dahulu mendekati kapal dan ia yang lebih dahulu ditolong.
Jamuda sempat ingin menolong kakak dan adiknya di dalam air.
Namun, karena kakinya ditarik ke dalam, akhirnya ia terpaksa melepaskan kakak dan adiknya.
"Saya ditarik ke bawah dan terpaksa saya lepaskan dua orang itu (kakak dan adiknya. Setelah saya di atas, saya mau menyelam lagi tapi mereka sudah tak tampak, dan sudah banyak darah (di air), jadi saya tak berani lagi menyelam," ungkapnya.
Masih mencari kakak, adik, dan teman-temannya yang belum ditemukan.
Menurut kabar, sebenarnya petugas di Dermaga Tigaras telah menolak rencananya untuk menaiki kapal itu.
Alasannya, KM Sinar Bangun sudah dinyatakan penuh, tetapi pemilik kapal tidak menolak dia dkk naik ke atasnya.
"Penumpang sudah padat di dalam, tidak bisa bergerak sama sekali. Kondisi penumpang sesak," kata Jamuda
Pemuda 17 tahun ini menyebutkan kejadian kapal karam begitu cepat.
Kapal oleng ke kiri lalu kanan, beberapa saat kemudian sudah tenggelam.
Jamuda mengaku hingga kini harus bolak balik rumah ke Posko Bencana di Dermaga Tigaras yang berjarak sekitar tujuh kilometer dari rumahnya.
Dia merupakan warga Kampung Sibungabunga, Desa Togudomu Nauli, Kabupaten Simalungun, Sumut.
"Mau cek korban lain apakah sudah ditemukan atau belum. Karena kakak dan adik saya dan teman saya belum ditemukan juga. Saya berharap secepatnya bisa ditemukan," katanya, masih dengan nada lirih.
sumber : https://planet.merdeka.com/hotnews/cerita-jaumuda-kakinya-sempat-ditarik-ke-dalam-oleh-korban-lain-melihat-banyak-darah-di-air/page3.html
Loading...
