Divonis Meninggal, Wanita ini Hidup Lagi Buat Banyak Tetangga Kesurupan
Seorang wanita di Desa Pakraman Pau, Bali, Ni Wayan Norti, 37, yang sempat divonis meninggal dunia, tiba-tiba hidup kembali. Begitu hidup lagi, ibu dua anak berusia 37 tahun ini langsung kerauhan (kesurupan) dan berjalan menuju Pura Pajenengan Sakti, Desa Pakraman Pau.
Dikutip dari tribunnews, Ni Wayan Norti awalnya mengalami kerauhan saat upacara Malasti serangkaian Nyepi Tahun Baru Saka 1940 dari Desa Pakraman Pau menuju Pantai Watu Klotok di Desa Tojan, Kecamatan Klungkung pada Soma Umanis Watugunung, Senin (12/3) pagi. Seusai ritual melasti dengan berjalan kaki, sorenya Wayan Norti diajak sang suami, Nyoman Sutiasa, kembali ke tempat tinggalnya di Kota Denpasar.
Kesokan harinya, Selasa pagi, Wayan Norti tiba-tiba lemas. Saat dicek sang suami, ternyata tidak ada napas dan denyut nadi. Wayan Norti divonis sudah meninggal dunia. Sang suami, Nyoman Sutiasa, kemudian mengabarkan kematian istrinya ini kepada keluarganya di Banjar Pau, Desa Tihingan, Kecamatan Banjarangkan. Rencananya, jenazah Wayan Norti kemarin langsung dibawa pulang ke rumah duka di Desa Pakraman Cau.
“Saya dan warga di sini mendapat informasi kalau Wayan Norti sudah meninggal tadi pagi (kemarin) sekitar pukul 10.00 Wita,” ungkap Kepala Dusun (Kadus) Pau, Desa Tihingan, I Wayan Ardana Ariasa.
Nusabali mengabarkan karena Ida Batara masih nyejer pasca Malasti, maka jenazah Wayan Norti buat sementara diminta jangan dulu dipulangkan ke rumah duka. Itu sebabnya, Kadus Wayan Ardana dan warga berjaga di sejumlah jalan menuju masuk Banjar Pau, agar jenazah tidak dibawa pulang. Jenazah Wayan Norti diarahkan untuk dititip sementara di RSUD Klungkung.
Kepala Dusun Wayan Ardana berhasil mencegat Nyoman Sutiasa yang hendak membawa pulang jenazah istrinya, di pertigaan Banjar Banda, Desa Takmung, Kecamatan Banjarangkan. Ketika itu, posisi jenazah Wayan Norti diikat di jok bagian depan mobil dalam posisi kursi direbahkan ke belakang.
Hanya saja, karena Sutiasa ngotot membawa jenazah istrinya ke rumah duka, Kadus Wayan Ardana dan sejumlah warga yang berjaga pun tidak bisa menolak. Maka, mereka mengikuti jenazah Wayan Norti sampai ke rumah duka di Desa Pakraman Cau, Selasa siang pukul 13.00 Wita.
Saat itu, sejumlah krama dan keluarga duka sudah menunggu di depan rumah. Bahkan, ada yang menangis histeris menunggu kehadiran jenazah Wayan Norti. Namun, keajaiban berbau magis terjadi. Begitu tali ikatan di kursi mobil dibuka dan jenazah dipegangi ramai-ramai, tubuh Wayan Norti tiba-tiba bergerak alias hidup kembali. “Pas saya pegang jenazah saat diturunkan dari mobil, tangannya terasa dingin. Tapi aneh, tak berselang lama, malah hidup kembali,” cerita Kadus Wayan Ardana.
Karena mendadak hidup kembali, Wayan Norti yang sempat divonis mati pun diajak masuk ke pekarangan rumah keluarganya di Desa Pakraman Pau. Sedangkan pihak keluarga mengahturkan banten Pejati dan Tulung Urip. Untuk memastikan kondisi kesehatan Wayan Norti, pihak keluarga pun menghubungi petugas Puskesmas Banjarangkan. Namun, saat petugas medis dari Puskesamas Banjarangkan tiba, Wayan Norti sudah dalam kondisi kerauhan. Yang bersangkutan juga tidak berkenan diperiksa petugas medis.
Dalam kondisi kerauhan itulah, Wayan Norti minta diiringi ke Pura Pajenengahan Sakti. Saat sudah berada di Pura Pejenangan Sakti, yang bersangkutan masih dalam kondisi kerauhan. Anehnya lagi, saat itu mendadak turun hujan disertai suara petir. Roh yang merasuki raga wayan Norti saat kerauhan, meminta untuk dilaksanakan upacara Madiksa menjadi sulinggih.
Sulinggih adalah orang yang telah mendapatkan penyucian melalui upacara yang disebut madiksa. Seorang walaka yang telah didiksa mendapatkan kedudukan sebagai sulinggih atau sadhaka. Sulinggih berasal dari kata Su artinya utama/mulia, linggih berarti kedudukan. Sulinggih artinya mendapat kedudukan yang utama/mulia di masyarakat. Mendapatkan kedudukan tinggi karena beliau telah mencapai kesucian lahir batin dalam tingkatan dwijati. Dwijati artinya lahir dua kali. Lahir pertama adalah dari rahim ibu. Lahir kedua adalah lahir dari weda. Lahir kedua, sebagai manusia suci tanpa cacat/cela.
Kadus Wayan Ardana mengatakan, untuk Griya (kediaman) setelah Wauyan Norti menjadi sulinggih nanti, akan didirikan lahan miliknya seluas 22 are di kawasan Subak Njung, Banjar Pau, Desa Tihingan.
Loading...